Monday, August 3, 2009

Fenomena Rambut Gimbal Di Dieng Plateu

Dataran tinggi dieng (dieng plateu) sebuah dataran tinggi terbesar di JawaTengah yang terletak di kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, disamping memiliki kekayaan alam yang eksotis dan culture budaya leluhur yang tetap ada sampai sekarang, juga memiliki sebuah fenomena menarik yaitu tradisi ruwatan bagi anak yang memiliki rambut gimbal. Konon, Kyai kolodete mengutuk masyarakat dataran tinggi dieng menjadi menjadi berambut gimbal. Persoalannya, “kenyataan” berbau mistis ini telah menjadi mitos yang mengakar alam wacana bawah sadar masyarakat secara turun-temurun.


Mengapa demikian? Ada apa dibalik itu semua?

Masyarakat di dataran tinggi dieng (DTD) patut besyukur karena diberi anugrah tanah yang begitu subur sehingga hasil pertaniannya bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup. Kita bisa melihat di sepanjang jalan dimanjakan oleh hamparan hijau tembakau, kebun teh, kebun sayur dan juga buah-buahan. DTD dikelilingi oleh gunung-gunung dan sungai besar serta terletak pada ketinggian 2903 meter dari permukaan laut. Tidah heran kalau daerah ini secara geografis sangat cocok untuk sektor pertanian.

badoer.com

Rambut Gimbal, Titisan Kyai Kolodite

DI era kekinian, rambut gimbal bisa dianggap tren mode. Rambut model pilin ini dapat dibentuk kapster-kapster salon dengan waktu relatif singkat, tapi biayanya mahal. Otomatis rambut pilin ini dianggap sebatas ungkapan rasa seni pemiliknya. Namun tidak demikian bagi masyarakat Dieng Jawa Tengah. Rambut gimbal di kalangan mereka, karena terkena gembel (terpilin tak teratur). Tapi karena itu, dipercaya memiliki makna mistis sangat dalam. Anak balita pemilik rambut gimbal dipercaya sebagai titisan roh kyai mumpuni. Bagi warga Dieng dianggap titisan Kyai Kolodite.

Berdasarkan anggapan ini, anak berambut gimbal dipercaya memiliki daya linuwih dibanding anak sebayanya yang berambut normal. Dinilai mampu berhubungan dengan dunia maya. Maka jarang ada yang berani sembrono dengan si gimbal. Keberadaan anak berambut gimbal di lingkungan keluarga, justru dianggap sebagai berkah, Bisa melindungi keluarga dari marabahaya. Tak heran setiap permintaan dan ucapannya, dinilai sebagai sabda kiai. Harus dituruti. Kalau tidak, petaka bisa menyergap keluarga. Bahkan dampaknya bisa meluas ke warga sekitarnya.

Anak berambut gimbal juga dianggap keluarga. Bagi petani bisa lancar becocok tanam, bagi pedagang bisa membuat ‘laris manis tanjung kimpul’. “Bagi petani, hasil panennya bisa melimpah”, ungkap Santosa, warga Dieng. Dari tutur-tinular yang berkembang di Dieng, Kyai Kolodite dipercaya sebagai kyai berilmu kanuragan sangat tinggi. Jadi pembela wong cilik pula. Kyai Kolodite adalah anak Kyai Badar, perangkat desa di masa kejayaan Mataram. Kesaktian Kyai Badar, tentu melebihi anaknya. Kolodite muda dikenal memiliki rambut gimbal. Dianggap pula sebagai cikalbakal pendiri Kota Wonosobo. Selain punya ilmu tinggi, Kolodite juga sebagai sosok kyai pengayom. Disegani musuhnya, dicintai teman dan warganya. Ketika berlangsung pemilihan kepala desa di daerahnya, Kolodite didorong mencalonkan diri. Tapi tanpa diketahui sebabnya, Mataram menolak pencalonannya. Untuk memupus kekecewaan, Kolodite memutuskan untuk menyepi. Mencoba mendalami makna hidup di tengah kesepian. Sekaligus mengadu kepada Sang Khaliq, pengatur semesta.

Dalam setiap doa dan semedinya, Kolodite memohon agar keinginannnya untuk mengayomi masyarakat terkabul. Dia juga bersumpah, bila keinginannya tak terkabul, dia akan menitiskan rohnya pada anak yang baru lahir atau sedang mulai bisa berjalan. Sebagai tanda titisannya, si anak akan berambut gimbal. Berangkat dari legenda itu, warga Dieng menempatkan anak berambut gimbal lebih tinggi dari sebayanya. Secara spiritual, perilakunya dinilai sama dengan Kyai Kolodite. Tapi berkah rambut gimbal berakhir saat anak berumur 7 tahun. Sebab anak mulai menginjak akhilbaligh. Kemudian diruwat dengan upacara khusus. (mol)
pos metro balikpapan